Sabtu, 03 Desember 2011

Sekilas tentang Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari

Muhammad Nafis bin Idris bin Husain al-Banjari, yang lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nafis al-Banjari lahir di Martapura sekitar tahun 1148 H/1735 M. Gelar kehormatan yang disandangkan kepadanya adalah Maulana al-allamah al-fahhamah al-mursyid ila thariq alsalamah,  ketika ia belajar di Haramain. Hal itu berarti ia telah sah mengajarkan tarekat kepada orang lain. Setelah mendapatkan pengakuan itu, ia kembali ke Martapura dan menyebarkan Islam khususnya di pedalaman Kalimantan Selatan. Tidak ditemukan catatan mengenai tahun wafatnya, meskipun diinformasikan bahwa ia meninggal dan  dimakamkan di satu tempat bernama Kelua, sebuah desa berjarak sekitar 125 km dari kota Banjarmasin.3 Diinformasikan bahwa ia belajar di Haramain, dan menurut Karel Steenbrink, Nafis al-Banjari sampai ke tanah Hijaz sesudah tahun 1775.4 Dalam kitab karyanya yang dikaji tulisan ini, dia menyatakan bahwa di Haramain ia belajar kepada sejumlah ulama. Di antara gurunya adalah Syaikh Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi, Syaikh Shiddiq bin Umar Khan, Syaikh Muhammad bin Abdul Karim Samman al-Madani, Syaikh Abd Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi, dan Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Jauhari. Nama Syaikh Samman (pendiri tarekat Sammaniyah), alJauhari dan al-Maghribi tersebut adalah juga  guru dari Syaikh Abd al-Shamad al-Palimbani 
seorang ulama Nusantara asal Palembang (lahir 1704 M), karena itu dilihat dari nama-nama tersebut tampaknya dia pernah berguru dengan  ulama yang juga menjadi guru Syaikh Abd alShamad al-Palimbani.5 Mengenai karya Syaikh Nafis, kitab yang berjudul al-Durr al-Nafis adalah satu-satunya karya yang sering menjadi bahan kajian. Sebenarnya Syaikh Nafis menghasilkan setidaknya lima karya. Seorang mufti dari kesultanan Johor Malaysia  bernama Sayyid Alwi Thahir al-Haddad menyebut empat judul lain karya Syaikh Nafis al-Banjari, yakni:  Kitab Bayan Tajalli, Kasyf al-Asrar, Amal Ma‘rifat  dan Fath al-Arifin. Akan tetapi, empat judul tersebut tidak pernah muncul dalam kajian karena memang belum ditemukan.6Nafis al-Banjari adalah pengikut mazhab Syafi‘i dalam bidang fiqih, dalam ilmu kalam ia mengikuti al-Asy‘ari. Aliran tasawufnya mengacu  kepada Imam Junaid, dan tarikatnya mengikuti berbagai macam aliran tarekat, yaitu Qadiriyyah, Syathariyyah, Sammaniyah, dan Naqsyabandiyyah. Tentang kitab karyanya (al-Durr al-Nafis), Syaikh Nafis menyatakan bahwa ia menamai kitabnya dengan nama al-Durr al-Nafis yang berarti Mutiara yang Indah. Pembahasan materi pada kitab tersebut dimulai dengan muqaddimah, dilanjutkan dengan empat pasal, tentang wahdat alaf‘al, wahdat asma, wahdat sifat, wahdat dzat, dan diakhiri dengan khatimah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar